This is Akira Wisnu's Site

Showing posts with label azazel. Show all posts
Showing posts with label azazel. Show all posts

Wednesday, January 13, 2010

Sekilas Paradox

aku berbohong dan itu mudah..
karena itu manis..
karena orang menyukai kebohonganku..

aku jujur dan itu sulit..
karena itu pahit..
karena orang benci kenyataan..

dustaku adalah candu bagi mereka..
mereka hidup di atas kebohongan..
kemunafikan yang indah..

realita merupakan racun keras..
mematikan harapan dan mimpi..
dan aku tahu mereka akan mati sengsara..

ketika kebohongan menjadi candu dan kenyataan menjadi mimpi buruk..
biarkanlah manusia menikmati kembang candu itu..
karena itu yang membuat mereka bertahan dari realitas kehancuran..

Tuesday, January 12, 2010

Sebuah Kisah Klasik: Azazel

Lembah tinggi di dataran puncak kota hujan, di pinggiran gunung Salak dimana jasadku dan hatiku kini berada. Dalam kesendirian di ngarai sepi dan tebing sendiri, yang gelap dan dijamah oleh malam. Terbaring kusendirian, diterangi bulan malam setengah badan, tanpa bintang.

"Ah, mengapa masih juga.."
peluh pelan lelaki, lalu menoleh ke kanan, ia tak bisa apa - apa. Ia lumpuh kini, lupuh badan dan hati.
Tak ada satupun yang dilihat, bahkan mahluk halus dan dedemitpun tak mau menemani ia dalam kegelapan.

"Aaaaaaaaarghh!!"
teriakannya cuma menjadi buih di lautan, dia sendiri di ujung jurang. Meradang menerjang sakitnya dunia yang fana.

Pria ini ditinggalkan kekasihnya, seseorang yang ia sayang tanpa sebuah kata terucap.
Janjinya diingkari, dan karma menempatinya. Sebentar lagi ia akan mati, dan ia yakin akan hal itu.
Dalam hati ia merangkai prosa kecilnya, tuk yang dia benci dan dia cinta.

wajahnya menjadi hantu di duniaku
meninju kejam tiap kelu dan pelu di dalam hatiku
senyumannya berarti satu hal..
PALSU

dia dan segala egonya
dan para pangeran mahkota yang mengelilinginya
kebaikan palsu
dan segala puja puji dewata-dewahita yang semu

agoni para penguasa
paras bak cleopatra
merasa mampu menaklukan tiap pria,
namun sontak api menyala
dan kubenci dia
wanita berparas permata tapi berpikiran bisa..

dia adalah kepalsuan terindah..

lelaki ini patah hatinya, begitu pula semangatnya..karena cintanya takkan pernah sampai. Yang ia cinta adalah seseorang yang tak pernah ada, dialah Azazel dunianya.

-bersambung-

Wednesday, June 10, 2009

Azazel: Risalah Kerisauan Hati

Saat ini ingin berceritaku kini, mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan. Tak jauh dari kehidupan kita masing - masing, sebagai pengisi haru jiwa yang dahaga akan kasih..

Kuturun dari bus, lalu berjalan lirih kususuri tapak - tapak langkah letih menuju ruang di atas, ruang yang mengubah perasaanku hari ini. Terus melangkah menuju ruang di atas awan, di lantai dua sebuah kampus di kota perbatasan.
Kututur pelan perlahan, mengamati sekitar, tapi nyatanya tak ada yang bisa menghiburku. Badut - badut di sekitarku terlihat semu, tak ada konyolnya, dan jenuh akan aktifitas masing - masing, insan modern yang lupa akan waktu.
Melangkah ke atas, tuk memulai rapat, dan begitu ku buka pintu, yang kutatap mendinginkan hatiku. Dalam hati kuberkata, "Kumenatap malaikat, seorang bidadari cantik dari nirwana jauh.."

kutertegun tak beranjak,
tapi ia berujar sontak
aku berusaha untuk mengelak
tapi aku terlanjur leleh tergeletak

ia cantik mahadewi,
aku jatuh cinta lagi
ia sungguh indah sekali,
aku tatap ia dalam hati

Ia menyapaku lagi, aku bingung, bungkam harus bagaimana, aku terperanjat kaku, dan tak bisa menatap dalam sang biadadari. Terlalu jauh, aku takut ia menancap lebih jauh dalam anganku. Pikiranku terbang ke langit ketujuh..

Tuhan, bantu hambamu ini
Tuhan, dekatkan aku dengan hampa..
agar rasa ini menghilang
aku tak ingin terikat, terjerat..

Tak lekang ia menjauh dariku..
kucoba tuk cuek!
sekalipun aku tak ingin jauh darinya..
munafik aku..

lalu kuciptakan diriku yang jahat padanya, berbuat dengan amarah, meluapkan rasa cemburu karena tak bisa mengungkapkan. Berbisik rasa frustasi padaku kini.
Pandanganku makin kabur, dan tangisnya menjadi, terngiang - ngiang di benak kecilku..

golak hatiku bergejolak,
Gibran..tahukah kamu..

lara pikiranku terpana,
Asmara..kutakbisa hidup tanpamu..

Terlanjur jauh aku merasa,
kuharap sang Dewata menjawab doa resahku..
kutakut tuk bicara padamu..
bahkan hanya tuk menatap sayup matamu saja aku takjub..
langit sungguh tinggi, tapi aku rendah kini..

duduk terperanjat di pojokan makara
naik meniti atap di kubu SC
memanjat hati ragu di musholla
terdiam mengukir bukit di deru ruang A.111

Dan ia tetap dipikiranku, mengahantuiku..apakah benar yang aku rasa? apa benar yang aku hasratkan?
Approdite..jawab panjatan pintaku, tunjukkan aku dimana ia berada. Ingin ku minta maafku padanya, terperanjat atas dosa yang kulakukan padanya..
cemburu ini buta, pikiranku dihantui gelisah..sementara nasibku diujung tanduk akhir bulan ini..

14 Juni, aku berdoa padamu
berikan ia bahagia selalu..
meskipun mungkin ia takkan pernah tahu yang aku risaukan
kuberdoa untuk ia yang kusayang..
semoga aku terkenang baginya, sebagai hadiah positif baginya..
dan aku harap dia jadi doa pintaku tuk pertambahan usiaku,
namun aku tahu apa yang ia anggap padaku
kutakkan pernah meraihnya..

sang bidadari tinggi menjulang, terlalu cantik, terlalu bersinar bagiku yang hidup dalam kegelapan malam
yang tunduk pada bayang hitam masa kelam..

yang pasti aku kan ada baginya,
sebagai harapan bertepuk sebelah tangan
sekalipun ku kan hadir sebagai Azazel baginya, agoni dalam dunia malaikat
ku pasti akan manjadi pelindung baginya, pedang dan perisai kala ia butuh..
mengulurkan tangan dalam topeng kebohongan,
agar ia tak tahu kalau aku menolongnya dari gelap bayang - bayang..

"Love will never fail, because love is a gift to others, even if its one side love, its still a love isnt it??"
”dalam larut malam ini
ditemani bintang - bintang tertutup benderang lampu kotaku..
menanti ia dan meratap sendiri”

duhai bidadari, kujauh bagimu, tapi kudekat adanya..semoga kau takkan pernah tahu eksistensiku..hanyalah bayang semu..

-akirawisnu-
11 juni 2009, menanti ujung babak baru drama kehidupan
02.23 am

Friday, August 22, 2008

"Azazel Cinta: Gelap Kematian Bernyawa, Kematian Cinta"

"Cinta, ya cinta. Menjadi prahara diatas tahta keremajaan, sebuah pangkuan gelisah rona empati. Menggoyahkan kemudi hati pemuda, memutar haluan sauh para pemudi. Bagaikan ladam magnet yang saling bertautan, ataupun saling melwan. Dan itulah prahara cinta, getir dalam senoda manis, kasar dalam lembut gelak tawa!"

Dalam masa - masa yang kukenang itu, terpias asa. Nama yang menorehkan kalut masa lalu tergores kembali. Kenangan hidup menginjak remaja, setelah nikmat kehidupan fana masa kanak, melanjutkan anak tangga nyawa pada masa yang disebut orang masa keemasan. Tapi tidak olehku, masa ini kuselimuti dengan memori menikam hati, mengubur dan meremas pendaman rasa yang melukai kalbu. Akan kukisahkan sakit yang kudera, membagi dengan kalian hai yang membutuhkan dahaga. Dahaga akibat buaian cinta, yang tak tersampaikan sampai ujung kalbu merintih. Dan akan kugambarkan jeritan ini, yang melumpuhkan semua sendi spiritualku, mengoyak imanku, dan mencatut emosiku. Kisahku bukanlah kata, tetapi nada dalam senandung bidadari. Melambungkan hingga langit ke tujuh, dan menjatuhkan kita kala kita di puncak, menjadikan Azazel menanti kita, di neraka jahannam merujam.

Dan kini kukisahkan epos yang merusak ketentraman batin pemuda ini. Sebagai senandung pencabut nyawa, dalam nada kematian cinta.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Selamat datang cinta, Selamat Tinggal Cinta!! Datangmu begitu indah, dan kau kini menghilang dalam kabut duka, meninggalkan romansa abu - abu dalam kelam!!"

Pemuda dalam bayang - bayang langit malam, lusuh, terlihat rona wajahnya berwarna pucat. Dalam gelap berbintang cerah pemuda ini menatap ke atas, menatap dengan tatapan hampa pada sang jagat raya. Hatinya sudah melintasi dimensi tiga, menembus batas ruang dan waktu, menjelajah panorama hatinya yang tengah sendu di balik karma.

Ia berada jauh dari peraduannya, tak lebih baik juga ia kini sendiri. Merenungi setiap tamparan nasib yang datang menguji, terduduk ia dalam sangsangkala penat.

Berputarlah pikirannya menuju puing - puing babilon hati.
Dimulai dari cinta pertamanya, hingga sangsangkala tautan hati terakhirnya. Meretas ia dalam tawa, menikam hati hingga hancur, dan merajut ingatan terhempas badai. Maka jatuhlah ia, pemuda yang sendiri dalam rajuk tangis, menari di atas badai pikiran, merajam kata - kata yang melukiskan lara, dan menuturkan hampa dalam tiap pemikiran sempitnya.
Dunia adalah pesimistis di hadapan ia kini, dan hanya Sang Khalid yang mampu menariknnya, meruh ruh kecilnya dalam kubur. Dan mungkin ia kini tak mampu berkata apa lagi, hari esok sudah tertutup, hari ini didera sesak. Mayat bernyawa yang mengingat masa, kembali menuju dimensi tiganya, menyeruakkan tangisan kekal dan mengemulisir lara. Terkenang masa itu, dan kini dia hidup dalam deru ragu []

bersambung...


-akirawisnu-

Edited by : Akira Wisnu akirawisnu.blogspot.com