This is Akira Wisnu's Site

Showing posts with label puisi wisnu. Show all posts
Showing posts with label puisi wisnu. Show all posts

Monday, March 1, 2010

Lensa dan Nada bagian kedua

(sebelumnya)

Nama aslinya Thita Haningtyas, nama kerennya Thita, akrab di panggil di dunia jurnalis gosip sebagai “Thijah The Mighty Maid” (entah kenapa mighty maid, aku juga masih bingung, mungkin karena dia adalah pembantu dunia infotainment yang konon “Ruar” biasa hebat), dan oleh orang – orang terdekatnya dipanggil Momo. Dipanggil Momo pun ada sejarahnya, menurut yang empunya cerita sih, ini penggilan dari neneknya Thijah yang susah memanggil nama cucunya Thita, atau Itha. Karena gigi sang nenek sudah makin komplikasi, mudahnya dia memanggil sang cucu dengan “Momo”.


Hampir 2 jam ditunggu sang empunya cerita, namun tak kunjung kelihatan batang hidung perempuan usia setengah baya itu. Mungkin karena sibuk, atau mungkin karena disibukkan dengan urusan lainnya. Sungguh tak jelas apa yang dilakukan olehnya, yang pasti dia punya beragam agenda yang susah dijelaskan oleh logika bebas mahasiswa abad ini.

Bila kalian bertanya kapan kali pertama bertemu dengan Thijah, tentu akan kujawab. Berawal dari sekitar 7 bulan lalu. Saat itu bulan Agustus yang terik di kota hujan, Bogor.

Aku dan beberapa rekan BOE (Badan Otonom Ekonomika) serta Kanopi (Kajian Ekonomi Pembangunan Indonesia) FEUI tengah melakukan penelitian kecil dan observasi lingkungan di daerah Darmaga. Sebenarnya observasi ini hanyalah kedok belaka, sekedar topeng pancingan untuk menguak informasi yang jauh di belakangnya. Ada indikasi kasus penyalahgunaan wewenang CSR[1] dari PEMDA setempat, lewat observasi lingkungan kita berharap bisa mengorek sedikit informasi tentang dugaan kasus ini, semangat muda yang penuh idealisme, menguak kebenaran tentu adalah sebuah prestis tersendiri bagi kami.

Namun hampir 4 minggu berlalu, dilewati dengan terik dan gerimis. Rasa kantuk karena kurang tidur ditemani oleh penasaran tak berkesudahan. Letih sudah 4 mahasiswa di kota orang, namun kosong hanya di dapatkan. “Tak ada informasi satupun..” keluhku pelan dengan nada setengah harapan.

Sudah dekat batasan waktunya dengan waktu masuk kuliah kembali, seolah makin sempit menyeruak, makin kalut dan kecewa karena apa yang hendak kita kuak tak kunjung terpancing jua. Setengah jam lagi kawan, setengah jam lagi! Kita pasti berkemas kembali ke Depok, sudah tak tahan dengan dingin dan tak kuasa menahan rasa kecewa. Seolah gelora muda ini padam dan runtuh dalam semalam.

“Musnah di terkam air Bah!!” kutuk ku pelan.

“Darah muda, darahnya para remaja..ahahhahahak!! kenapa pikiranmu kusut, bocah?!”

Dahiku mengkerut, menyempitkan mata, menajamkan pandangan pada arah suara cempreng berjarak tak lebih dari 5 meter di sebelah kananku. Tetapi masih tak jelas.

“Hmmm...”, dia mendekat ke arah kami berempat, memutar singkat sambil mengamati kami. Seolah dia tahu apa maksud dan dari mana kami berasal, dia memperkenalkan dirinya.

“Thijah! Dalam dunia jurnalis mahasiswa dulu aku biasa dipanggil itu, kisanak!”

Aku terdiam, kedua sahabatku dari BOE, Jaseph dan Johen tampak sumringah. Layaknya anak domba yang bertemu dengan sang gembala kembali, atau seorang budak yang dibebaskan oleh majikannya..ah, mungkin terlalu berlebihan. Lebih seperti ikan bertemu dengan air, air muka dua “J” tampak berseri,

“Gelora muda mereka telah kembali!” sahut Sang empunya cerita, Thijah.

“Senior Thijah!!” sahut kedua “J” penuh semangat.

“Betul kisanak, seperti yang kuduga, dari badge kalian, aku tak salah lagi.. BOE generasi keberapa?”

“31 neng Ijah!!! Eh, betul kan Hen?!” jawab Jaseph, seraya menghitung kembali generasi keberapa mereka sambil dengan wajah ling – lung.

Dengan setengah terbahak, Johen memandang ke arah kita. Dia terbahak dengan lukisan wajah wakilnya Jaseph, sekaligus dia paham dengan kebingunganku dan Dara. Seolah bisa membaca pikiranku, dia melambai pelan ke arah kami berdua, lalu dia memperkenalkan siapa wanita paruh baya di depan kami. Sikapnya terlihat mencerminkan wanita di usianya, seperti sudah melalui asam dan garam.

“Dialah Thijah! Thijah, the Mighty Maid!! Legenda Reportase BOE!! Salah satu dari tiga pelopor..!”

Kami berdua terhenyak, nama itu tak asing di kampus kami. Melegenda bagai kisah si Malin dari tanah Padang, keramat dan tak bisa dipanggil sekenanya. Dan kini dia berdiri dengan tinggi tak sampai pundakku, megah membentangkan senyum khasnya dengan raut wajah penuh wibawa.

“Tak perlu sungkan, bocah! Aku sudah tahu apa niatan kalian, Cut sudah bercerita padaku, bercerita hampir semuanya. Jadi sebutkan sisanya padaku, dan akan kubantu kalian membabat mitos yang hendak kalian kuak, kisanak!” []



[1] Corporate Social Responsibility


http://akirawisnu.blogspot.com archives from darkside of me and akira wisnu


Friday, February 26, 2010

Sore Penuh Hasrat, Malam Berlalu

kutemukan sajak ini disebuah tempat:

Sore Penuh Hasrat

Rajut rindu berbalut hasrat
Menggelora di sunyinya senja
Mereguk rona jingga penghujung hari

Mendesahkan raut
Menyembuhkan dahaga
Mengcengkramakan keinginan

Sinar senja menggurat nafsu
Meraba lekuk menggoda
Riuh senandung pematang

Bergulat nikmati hamburan redup mentari
Ternaungi lembayung
Beriring kicau burung senja

Bibir bersentuhan bercerita merdu
Mengenai pendam hasrat di terik tadi
Terobati dengan alunannya

Jemari lentik merangkul
Menutup hasrat, membuka gelora
Sebuah melodi penghantar sore

dan malam pun tiba, menghapus semua satu-satu

Semalam Berlalu

Jingkat-jingkat kakimu
Menopang lekuk tubuh basah itu
Ditemani wangi sabun semerbak
Membuat tatap ini tak terelak

Rona merah muda paras mu
Menampik sorot mataku
Jemari-jemari lentikmu
Genggam erat helai handuk itu

Lihai tanganmu bersolek
Menabur bedak menutup rona
Tersipu mengingat malam seronok
Menyampaikan gelora

Peraduan ini
Tak jauh dari mu
Namun mengapa galau
Tak kunjung hati kudapati

Butiran hujan bersahutan
Menambah sunyi paras mu
Gundah tak kunjung berkesudahan
Apakah harus ku utarakan kepadamu

Namun bibir ini terkunci
Waktu yang berlalu itu
Menahan ku untuk memulai
Mengapa rasa semakin tak menentu

oleh Wildgrass, di persembahkan akirawisnu

Friday, August 7, 2009

Sajak Pertemuan Mahasiswa - WS Rendra: Tulisan - tulisan rendra

matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?"

kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )

rewritten by akirawisnu
a tribute to Rendra..
a Poet for us

Thursday, August 6, 2009

"Satu Duka, untuk Rendra, Seorang pujangga tanpa nama.."

WS Rendra Meninggal Di RS Mitra Keluarga Depok

Penyair WS Rendra meninggal dunia. Rendra meninggal di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok pukul 22.00 WIB.

"Meninggal di RS Mitra Keluarga Depok, pukul 22.00 WIB," kata salah satu sahabat Rendra, Edi Haryono saat dihubungi detikcom, Kamis (6/8/2009).

Edi belum mengetahui secara pasti penyebab kematian Rendra. Informasi ini didapat Edi dari salah satu asisten Rendra.

"Dikabarin asistennya begitu meninggal 10 menit kemudian," kata Edi.

Penyair bersuara serak ini sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading. Rendra masuk rumah sakit akibat jantung koroner yang dia alami.

Sebelumnya pria kelahiran Solo tahun 1935 itu sempat dirawat di RS Cinere sejak Kamis, 25 Juni. Namun karena kondisinya tidak membaik, Rendra lantas dirujuk ke RS Harapan Kita, lalu dirujuk lagi ke RS Mitra Keluarga.

sumber:
kaskus.us

sumber lain: detik.com
-------------------------------------------------------------------------------------------
Duka tuk Pujangga..

Sungguh,
setelah duka menimpa
Indonesia harusnya menangis,
setidaknya kehilangan

Disini kuberdoa untukmu
seperti untuk Kahlil,
ataupun Chairil..

Semoga pujangga menjadi kisah
sekaligus cerita
cintaku tertinggal...
dalam tiap karyamu..

sajak mengisahkan
asa dan perpisahan

awal pasti ada akhir..

-akirawisnu-
7-8-9 1:55:54

Wednesday, August 5, 2009

Karawang - Bekasi, Chairil Anwar

Karawang Bekasi Oleh: Chairil Anwar
1948

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa

Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami

Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir..

Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Chairil Anwar, 1948
Akira wisnu, 2009 rewritted

Sunday, August 2, 2009

"Senyumannya Mengubah Duniaku"

Masa SMA, masa yang indah..kala itu adalah masa suka duka, yang jauh berbeda. Masa itu kita masih berseragam lengkap dengan aturan yang mengekang. Entah itu rambut, sepatu, ataupun ukuran celana kita yang berseragam.

Kala itu cinta dan hina datang pula, mendewasakan kita pelan perlahan. Sama seperti kalian, sama sepertiku pula.
Kukisahkan kisahku, saat kupertamakali jatuh hati pada seorang gadis, dengan puisi pertamaku tuk dia..

Senyum itu telah meluluhkan hatiku
Yang tengah dibekukan oleh api kesunyian,
menghangatkan sendi - sendi ngiluku yang penat

Melihat bau harum tubuhmu
Mendengar elok parasmu
Menyentuh nada suaramu
Memandang pipi manismu

yang elok bagai gemerlap anggun senja

Hari - hariku indah bersemi
Mekarkan naungan jiwaku yang cantik
Melayangkan empatiku sampai langit ketujuh!

Kaleido suka yang menusuk jantung sukmaku
Membunuh rasa piluku
Entah ambiguitas rasa menyibak paradoks romansa
Romansa yang membutakan asaku

Senyum itu hangat!
Layaknya singgasana surga
Indah nirwana hati

Anganku melayang tinggi! Kapan pipi cantikmu kan hilang dari anganku...
..yang kosong, dan beku!!!

"Sajak Palsu"

Selamat pagi pak,
selamat pagi bu,
ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu..

Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu.
Di akhir sekolah
mereka terperangah, melihat hamparan nilai mereka
..yang palsu..

Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop berisi perhatian dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu..

untuk mengubah nilai-nilai palsu
dengan nilai-nilai palsu yang baru.
Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.

Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu.

Dengan gairah tinggi
mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu.

Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu.

Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu.

Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring



'sebuah sajak palsu - Agus R. Sarjono'
http://agusrsarjono.wordpress.com/2007/02/13/sajak-palsu/

Friday, July 10, 2009

Medea: Senandung Biola Medea

Medea: Senandung Biola Medea



Lagi – lagi sekedar kisah aneh, terjadi disebuah malam, ditengah – tengah padang rumput menghampar di depan istana fakultasku. Aku menatap sesuatu yang indah, sungguh susah digambarkan. Bagai musik penadah nyawa dikala gundah, lentik melengkingkan nada – nada dari biola yang tak berdawai.

Medea menyenandungkan irama hati, memainkan pelan perlahan, penuh penghayatan diujung kalbu. Sungguh sebuah kesederhanaan, melainkan sonata kehidupan. Tiap nada yang ia gesek di biola cokelat itu mengisi tiap relung nadiku yang semu. Nafasku terhenti sejenak, waktu bagai melambat kala menatapnya, sungguh mempesona melirik musik itu, apapun itu, keindahannya membunuh lukisan Da Vinci, sang Monalissa.

Medea,
Apakah simponi yang engkau mainkan itu?
Apakah emosiku ini mengganggu citramu?
Apakah perasaan ini salah tatkala aku terbuai oleh musikmu?

Biola bergesekan, saling bersingkap satu sama lain
Menyenanungkan irama pembuai kepedihan, membahagiakan sejuta karma..
Pelan, perlahan..irama saling bertautan indah..
Malam terasa penuh sekarang..tak ingin pergi jauh lagi..

Waktuku melambat,
Tak berasa seharian menunggunya..
Penatku terbayar sudah
Menatap irama sang Medea membunuh egoku..

Aku sadar bila ku egois..
Dan mungkin ku pencemburu akan keindahan musiknya
Tatkala ada hati lain yang hendak merebut irama ini..
Sonatine 59, opus 2 piano sonata..
Itulah nada dari sang Medea yang kuingat selalu..
Dan aku sadar, aku hendak memohon maaf atas egoku ini..

Sifat ketidaksabaran,
Menciptaka distorsi pada nada – nada Medea..
Tapi itu karena kusayang nada – nada itu..
Dan tak ingin ‘Fals’ mengiringi nadanya
Do, Re, Mi, Fa…

Kemanakah kamu kini?
Kudekat dengamu Namur kau tak pernah merasa..
Atau itu bentuk dari penghindaran kita?
Dan tak ingin ‘distorsi’ merusakaan persaudaraan nada kita..
Sol, La, Si, Do’!!

Maka nada dibalikan,
Maka hidup disingkapkan kembali..
Maka ikatan menjadi sebuah mendiang..
Maka itu akan jadi harapan semu saja
Maka ini bagaikan punguk merindukan rembulan
Maka ini bagai menggarami air laut
Maka ini bagaikan menerbitkan sang Surya dari barat..
Maka ini bagaikan menenggelamkan batu apung..
Maka ini bagaikan mendinginkan bara
Maka ini bagaikan musim dingin tanpa panas..
Maka ini bagai kutub utara tanpa selatan..
Dan maka ini..

Maka ini..kuharapkan nada itu akan selalu ada
Sekalipun Medea tak ada untukku, selalu..

Maka ini..kuinginkan ia, sang pembawa pesona, penebar keindahan pada pujangga gelisah
Sekalipun kamu bukan takdirku kini..
Biarkan waktu yang mengaturnya..

Maka ini..bak bahtera sang Nabi (Nuh) di badai Tiamat..
Pelihara biola itu,
Agar aku tenang mengawasimu dari kegelapan, dari kejauhan malam
Dan peliharalah baik biola itu,
Agar aku dapat selalu mendengar dekapan indah nadamu, Juwita..
Dan akan kuingat selalu, irama yang kau bawa..
Walaupun bukan untukku..

Kan kucoba tuk menjaga nada itu,
Bersama pemusik hatinya,
Sang Medea..



Dalam gelap sudut malam kota ini. Merenung sendiri dalam getir, menunggu waktu berpaling baginya..

-akirawisnu-
Sabtu, 11Juli09, 2:23:30

Monday, June 29, 2009

Medea - Cahaya dan Kemimbangan

puisi dibuat, bukan diciptakan
wajar bila sang pengarang yang terkadang paham akan rasa
yang lain menjadi mati akan karsa..

hati kini beku, sedingin bara dalam dada ini
mata kini kian buta, dibutakan oleh gelapnya cahaya mentari
rasa kini sudah mati, dibunuh oleh manisnya mahligai cinta
sungguh ironi dalam hidup ini,
dan sekedar retorika belaka

aku dan kamu,
dia dan dirinya

semua pada dasarnya insan egois,
sekedar individu yang mengakarkan janji dengan hati saja

maka hakikatnya,
matikan saja hati ini..
biar tak jadi benci..
ditengah naungan rasa sayang,
dirona tipisnya peribaan benci dan cinta
titipkan kisah klasikku pada kekasih hatiku..

Sunday, June 14, 2009

Seraphim: 14 Juni yang Penuh Cahaya Bintang..

hari ini dimulai dari sebuah malam kelabu di tanggal tiga belas, dimana janji masih belum terbalas. kumerenung menunggu pagi datang, dan datanglah saat itu, detik - detik pergantian usiaku..


kuharap doaku terkabul,
bagi semua orang yang kusayangi..

bagi ia yang akan mencoba menjadi juru selamat, yang akan menempuh ujian

juga baginya yang kan melantunkan denting piano di gemerlam gemintang malam, yang juga mungkin kan pergi bernaung di bawah laut universitas di atas gunung kota api, kota pahit api semangta bandung..

hari ini sungguh indah

tak pernah terbayang aku..
sebuah eksistensi palsu
yang semu dalam tawa bayangan, kan diingat oleh mereka

kawan,
kucinta kalian
tak pernah kumerasa menjadi manusia seutuhnya

hari ini aku masuk dalam era baru
showa menjadi hessei
orde lama ke orde baru, lalu reformasi!
kini di hari suci, aku merasa dinaiikan hatiku oleh cahaya indah

kelabu kini hilang
yang kutunggu akhirnya datang juga

sayang hari ini sungguh singkat
diakhiri dengan meriam cerah di malam
menaikan langit jepang di negeriku

kelabu kini diterpa sirna
cahaya merasuki kalbu semuku

eksistensi diuji
dan aku bahagia karena mereka
para penjaga hati

sayang 14 menjadi 15
sayang hari baru akan dimulai
semoga kenangan hari ini takkan berlalu
aku sayang kalian semua

Seraphim ada bagiku kini..


^-^

dalam gelap malam bernada sepoi..

-akirawisnu-
14 juni 2009, 23.34 detik ke tigapuluh



"aku sayang kalian semua":)

Wednesday, June 10, 2009

Azazel: Risalah Kerisauan Hati

Saat ini ingin berceritaku kini, mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan. Tak jauh dari kehidupan kita masing - masing, sebagai pengisi haru jiwa yang dahaga akan kasih..

Kuturun dari bus, lalu berjalan lirih kususuri tapak - tapak langkah letih menuju ruang di atas, ruang yang mengubah perasaanku hari ini. Terus melangkah menuju ruang di atas awan, di lantai dua sebuah kampus di kota perbatasan.
Kututur pelan perlahan, mengamati sekitar, tapi nyatanya tak ada yang bisa menghiburku. Badut - badut di sekitarku terlihat semu, tak ada konyolnya, dan jenuh akan aktifitas masing - masing, insan modern yang lupa akan waktu.
Melangkah ke atas, tuk memulai rapat, dan begitu ku buka pintu, yang kutatap mendinginkan hatiku. Dalam hati kuberkata, "Kumenatap malaikat, seorang bidadari cantik dari nirwana jauh.."

kutertegun tak beranjak,
tapi ia berujar sontak
aku berusaha untuk mengelak
tapi aku terlanjur leleh tergeletak

ia cantik mahadewi,
aku jatuh cinta lagi
ia sungguh indah sekali,
aku tatap ia dalam hati

Ia menyapaku lagi, aku bingung, bungkam harus bagaimana, aku terperanjat kaku, dan tak bisa menatap dalam sang biadadari. Terlalu jauh, aku takut ia menancap lebih jauh dalam anganku. Pikiranku terbang ke langit ketujuh..

Tuhan, bantu hambamu ini
Tuhan, dekatkan aku dengan hampa..
agar rasa ini menghilang
aku tak ingin terikat, terjerat..

Tak lekang ia menjauh dariku..
kucoba tuk cuek!
sekalipun aku tak ingin jauh darinya..
munafik aku..

lalu kuciptakan diriku yang jahat padanya, berbuat dengan amarah, meluapkan rasa cemburu karena tak bisa mengungkapkan. Berbisik rasa frustasi padaku kini.
Pandanganku makin kabur, dan tangisnya menjadi, terngiang - ngiang di benak kecilku..

golak hatiku bergejolak,
Gibran..tahukah kamu..

lara pikiranku terpana,
Asmara..kutakbisa hidup tanpamu..

Terlanjur jauh aku merasa,
kuharap sang Dewata menjawab doa resahku..
kutakut tuk bicara padamu..
bahkan hanya tuk menatap sayup matamu saja aku takjub..
langit sungguh tinggi, tapi aku rendah kini..

duduk terperanjat di pojokan makara
naik meniti atap di kubu SC
memanjat hati ragu di musholla
terdiam mengukir bukit di deru ruang A.111

Dan ia tetap dipikiranku, mengahantuiku..apakah benar yang aku rasa? apa benar yang aku hasratkan?
Approdite..jawab panjatan pintaku, tunjukkan aku dimana ia berada. Ingin ku minta maafku padanya, terperanjat atas dosa yang kulakukan padanya..
cemburu ini buta, pikiranku dihantui gelisah..sementara nasibku diujung tanduk akhir bulan ini..

14 Juni, aku berdoa padamu
berikan ia bahagia selalu..
meskipun mungkin ia takkan pernah tahu yang aku risaukan
kuberdoa untuk ia yang kusayang..
semoga aku terkenang baginya, sebagai hadiah positif baginya..
dan aku harap dia jadi doa pintaku tuk pertambahan usiaku,
namun aku tahu apa yang ia anggap padaku
kutakkan pernah meraihnya..

sang bidadari tinggi menjulang, terlalu cantik, terlalu bersinar bagiku yang hidup dalam kegelapan malam
yang tunduk pada bayang hitam masa kelam..

yang pasti aku kan ada baginya,
sebagai harapan bertepuk sebelah tangan
sekalipun ku kan hadir sebagai Azazel baginya, agoni dalam dunia malaikat
ku pasti akan manjadi pelindung baginya, pedang dan perisai kala ia butuh..
mengulurkan tangan dalam topeng kebohongan,
agar ia tak tahu kalau aku menolongnya dari gelap bayang - bayang..

"Love will never fail, because love is a gift to others, even if its one side love, its still a love isnt it??"
”dalam larut malam ini
ditemani bintang - bintang tertutup benderang lampu kotaku..
menanti ia dan meratap sendiri”

duhai bidadari, kujauh bagimu, tapi kudekat adanya..semoga kau takkan pernah tahu eksistensiku..hanyalah bayang semu..

-akirawisnu-
11 juni 2009, menanti ujung babak baru drama kehidupan
02.23 am

Wednesday, June 3, 2009

Jadi Inget Masa Lalu

bukan cewe gw sih tp gebetan gw dulu..
jadi dia lg kesel sama kakanya, dia nangis gitu deh.. smsan curhat ke gw..
gw blg udah atuh senyum dong.. jgn sedih terus
dia blg mo senyum sama siapa? disini cm ada bantal.
da gt gw ttp smsan terus
sambil gw jalan ke rumahnya

sampe rumahnya gw telpon..
eh liat ke bawah dong (kamar dia di lantei 2)
dia ga pcaya gt, lama kluarnya, akhirnya dia buka jendela dia kaget
maksud g, nah skrg kan u bs senyum ke gw.
abis itu lsg gw pamitan pulang tanpa masuk ke rumahnya hehe.. da malem sih


selidik punya selidik pas gw ngobrol sama sodaranya, gebetan gw bilang gini ke dia
"wah waktu itu kaya romeo n juliet aja kita"


hahaha... tapi akhirnya gw ga jadian sama dia, cm jadi temen deket aja...

T-T sedih gan!!

jadi inget masa SMA!!!


T-T

http://www.akirawisnu.co.cc/

"Sahabat Para Wanita - Part II"

sahabat para wanita,
mengapa kalian meritangi jalanku..
apakah karena aku??
atau karena ia??
sebuah alasan sentimental, sekedar goresan pena belaka..gugatan yang dibuat - buat

mungkin karena kalian anggap aku tak sempurna,
yang bisa membawa kalian terbang bersama..
sayangnya aku cnta dia..
sekalipun pengawal penjaga para wanita bersama..

bila gunung tak jauh kudaki,
maka pengorbananku tak hampa berdiri -
,berdiri tegap..

duhai sahabat para wanita,
dekatkan aku denganya

duhai para sahabat wanita,
sekali lagi, jangan jauhkan kita..
jarak sudah menusuk risauku
diperlebar kini kutak tahan
ingin menangis tapi tak bisa..

duhai sahabat hatinya..
mainkan dadu cinta dengan adil,
aku memang orang asing..
hanya "peasant" negeri antah berantah
tapi bermainlah adil..
aku tak suka dengan keadaan ini..

duhai para sahabat wanita,
atas nama sayang,
atas nama Gibran..
harapku..
jangan remukkan sayap - sayap patahku!

jangan tindih luka hati ini,
kematian cinta..
maka bawalah aku tinggi,
dan bunuh aku disana..
agar kutemui Azazel di ujung kejora..
tapi para sahabat penjaga wanita..
janjikan aku..
agar masih bisa bersinar di depannya
sekalipun ia tak tahu apa yang kudamba..
Aprodhite yang terlena..


-akirawisnu-
para sahabat wanita..

Gibran: Kematian Cinta

Jangan di kira cinta datangan dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun.
Cinta adalah ke cocokkan jiwa
dan jika itu tidak pernah ada cinta takkan pernah ada,
cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.



-akirawisnu-

Monday, June 1, 2009

"Sahabat para Wanita"

lagi - lagi seperti ini,
para perindu hati nampaknya tak berpihak padaku.

waktu di jam hapeku menunjukkan pukul 7 malam, dan aku masih terjebak di sebuah tempat, dan tahu harus kemana sekarang.
"wahai dinda, apakah kau tahu apa yang kurasa..??"
dalam hati kubergumam.
dan terngiang kembali kata - kata temanku sewaktu di kutek, "love will never fail.."

apa coba maksudnya??

duhai perindu hati
kalbuku kini bermuram durja
mengapa gerangan aku berputar di waktu yang sama??
para perindu hati..berikan jawabmu

duhai pencinta kalbu
apakah aku salah memiliki hati
lebih indahkah dunia ini tanpa cinta
para pecinta kalbu, tunjukkan aku tandanya

duhai para pengiman ilmu
apakah kalian bahagia tanpa pearsaan?
jika memang begitu,tariklah aku
para pengiman ilmu, kuak fakta di depanku

duhai para sahabat wanita
apakah salah kudekap dekat?
memiliki hati memang mebuat jauh
para sahabat wanita, akankah lebih baik ku mebghilang?

tak jua ku tahu apa yang harus kulakukan, dan akhirnya aku melangkah ke depan, mengais sisa hati yang masih ada. Mencoba tuk bertanya pada para sahabat wanita..
--------------------------------------------------------------------------------

dalam keadaan lemah tak bernyawa...

-akira wisnu-
darkside of me

Tuesday, May 26, 2009

Aku tak tahu mengapa..

Kembali kutakbisa belajar malam kemarin, melamun dan hanya melihat pada kertas kosong bertuliskan makro..

tetap tak bisa fokus, sudah kucoba tuk pejamkan mata saja, tetapi hanya terbesit pikiran bodoh ini..

dua hari sudah aku tak tidur pulas,
hanya karena persaan bersalah
menyatakan kebodohan
padang tandus dikala ujian

seandainya saja,
putaran ini menghentikan aku
dan menjebakku lagi dalam hitam
kenapa harus terjadi padaku??

aku tak tahu harus bilang apa..
maafpun sepertinya hanyalah menjadi sampah lantunan..
dan aku tak bisa bertanya apa..
karena mungkin hilang adalah jalan satunya..

aneh,
tapi kenapa harus seperti itu coba?
dan aku bertanya padanya..
serta bertanya padamu
akankah ego masing - masing menjadi kunci??

maka lebih baik aku sendiri dengan letihku
karena aku adalah mata
karena aku adalah batin
yang lunglai akibat waktu..

semoga hujan ini segera berhenti, dan semoga aku bisa berpikir lebih jauh atas ujianku..

-akirawisnu, 26 mei 2009, selesai ujian industri, masih bingung kenapa..-

Friday, May 22, 2009

Dan Kuingin Berlari saja..

Dalam sedalam dalamnya senyap
kuterigau,
ingin berlari..
mendudukkan diri dalam

kembali seperti dulu,
menjadi abu yang takkan bisa ternagkai lagi

kadang teringat kesedihan,
kala senang meradang
kadang terkenang gundah,
saat memor menjadi asa yang tandas

kuhanya menuliskan lantunan melodi hitam,
dan menjadikan sonata - sonata merah menyala
melamunkan melodi lagu klasik
terirama dalam bait kesedihan

terajam indahnya tangis..
kini kusendiri, terduduk, terdiam..

tiap detik terlampau dibawah tautan malam,
selama nafas menggebu
kuingin sendiri
menangis dalam iba, digelap malam ini..

Teringat terompet masa,
terlambung asa langit ketujuh
derap pacuan dustaku berlari
senyum miris dalam tragedi

Dan kini kuingin sendiri..

3 des 2008, 21.00
-akirawisnu-

Paradise Betrayed..

when those blessed eyes reflect shadows of pain
turn away! It's a trick to arouse emotions
The ground below their feet crumbles, the two cant turn back
dont let go of the hands that reached to you..

those simple days, vanishing one by one
i wont allow those memories to be tainted
this is paradise betrayed
searching for the light in the far reaches of my wayward heart
let these prayers reach you..

these imprisoned wings long for open the skies
i want to believe wea arent alone

we undertsand each other within our bonds,
we seek for each other..

i will not let us separate..
we will not get separated
destiny begins..

(will you kill someone you loved, because of love?)


-akirawisnu-

the Darkside of Me! Breaking Appart!!

Tuesday, May 12, 2009

"Hanyalah Sebongkah Distorsi"

hanyalah sebongkah distorsi

melangkah kecil lagi, lagi..
mendudukkan diri lagi, lagi..
lalu menengadah ke langit - membuka laptopku
lalu mengusap peluh satu - satu

maka aku memulai hari normalku,
sensasi yang biasa saja
tanpa ada cerita
hanya sebongkah putaran nasib

kini kulupa akan apa yang terjadi, mencoba tuk memutar dan berpaling. Dari dunia yang akan meronta, mencoba tuk merobek kebiasaan hariku
menulis menjadikan aku satu kelambu, menyimpul dalam angan saja

lalu datanglah ia,
ia datang padaku

memberi secercah nafas dalam hati sekaratku
menuai ibaku dalam keras sakitku
menerawang jauh
mengaumkan imajinasiku

tapi begitu aku sadar,
semua telah berubah
hanyalah sebongkah distorsi
memutar apa yang terjadi

tapi begitu dia menyadarkanku
semua hanyalah maya
hanyalah sebongkah distorsi
memalingkan putaran hidup

dan tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya

............................................................

(menanti apa yang kan terjadi, tak tahu apa)

Saturday, March 14, 2009

Sang Seniman Patah!!

Sang Seniman Patah!!

aku adalah seniman,
seniman patah hati..

aku adalah pangeran,
pangeran dalam sepi..

aku adalah scientist..
yang merangkai formula tak bertepi..

aku adalah pelari,
yang berlari jauh meninggalkan hatiku..

aku adalah pengemis..
yang meronta dalam duka

aku adalah badut,
yang tersenyum dalam asa

aku adalah astrolog,
yang mengamati bintang hati dari jauh

aku adalah pantomim,
yang tak pernah bisa ungkapkan isi hatiku..

aku adalah expert,
yang ahli dalam urusan ditolak..

aku adalah aku,
yang hidup dalam harta kesedihan
memenuhi hatiku dengan kegelapan..
aku adalah banggaku..
dengan prestasi cinta nolQ!!

Edited by : Akira Wisnu akirawisnu.blogspot.com