I shrouded myself in the dark
inside the corner street without the light,
Why should i call you, the darkbringer in the form of light
warm enough, yet poisoning myself..
I do feel getting more and more invisible to the society,
I feel numb!
And I do feel closer to the one what so called,
The Pain!
Nobody bothering you..
And you're such a lonely person..
One who care another,
simply is person who's lonely!
I just wanna cry it out loud,
but I wont do that, nobody listening to you!
I simply fall into despair
And I'm becoming a huge Agony!
Know Pain!
Pain defines you!
To become a greater man..
..or the worst evil to your enemies!
-akirawisnu-
This is Akira Wisnu's Site
Counter
Search Darkside of Me
Menu
Bagaimana Isi Blog ini?
Follow Akira's Tweets
Facebook Akira Wisnu
About My Darkbringer....
- Akira Wisnu
- I'm just a student in Faculty of Economy UI, nothing good or bad on me..!! I just a lonely writter in my darkside of life.. i just give poet to others, hope they can gimme their poets too... I live in my emptyness...
Dark Shout!
Follow My Plurk!
Follow me up on
Friday, February 8, 2013
The Pain!
Posted by
Akira Wisnu
at
12:38 AM
0
comments
Thursday, February 7, 2013
Re-Galau: What a Mess Up
Hi all, long time no see, long time not updating this blog. Actually this blog was my "galau" stuff, a place where I'm only visitting when I do feel in a pinch. Yes! Right now i do feel that :)
Actually I'm not a very dilligent person, i do like exploring and questioning a lot of things. I love new things, but actually, I'm a type that would be bored very fast, that's why i do like Android, Linux / Ubuntu / Stata and coding's stuff, it mades my brain's working, and i do like the challenge. Then, the problem happened in front of my eyes after I'm working, wherever the workplace is. I'm not a morning person, so that's hard for me to keep u with every dilligent people out there. And FYI, I'm sleeping at 2AM, and have to wake up at 5AM? That's like, Crazy, I cant do it!
The other problem comes with usual stuff that's just like a mechanism. Repeating one another job for some days made you faster and more efficient, agree! But after you repeating that for 4 months, that's becoming boring. And your working partner, a dilligent and obey type was given the analysis work, while you are stuffed on Labelling data only.
Yap! See me, I'm not a tidy person, not a dilligent one. The problems are mine, not the other person or the job. I dunno, I wanna change it, but why should I? Or, I should change into another people before I becaming myself again? :o
-akirawisnu-
in despair February 2013
Posted by
Akira Wisnu
at
11:47 PM
0
comments
Sunday, December 11, 2011
Concept
Setting lokasi: Indonesia (Surabaya, Depok, Sidoarjo, Jakarta, Bandung, Jogja), USA (Boston, Washington D.C), Jepang (Tokyo-Akihabara), UK (London), Australia (Sidney,Melbourne, Victoria), Korea Selatan (?), Singapura, Mesir (?), Israel (Tel Aviv), Afrika Selatan (?), dan Belanda (Groeningen, De Hague, Amsterdam)
Setting Era: 7 A.t.I (Year of Seven after the Incident)
Main Character:
- UVI, Economicans = Akirawisnu (Iznu); Si Oom (Bhimo); Bastian; Johen; Yaseff; Ruth; Rufita; Ratna; Donny; Andhonny; Adit; Thijah; Kenny Dee
- UVI, Econometrist = Agbar du Waldee ; Erza d' Lion; Dea; Fajj'r; Saphirani; Deccile
- UVI, Economagistra = Uzgiharzo (Monetarist); Erda (Demographician); A.F.L (Game Theorist); Chekal (Monetarist); Rus'an (Lawconomist)
- UVI, Econoaleph = Meister Dorodjati; Meister Emir; Meister Chatib; Meisterita Srimulyani; Meister Faisal; Meisterita Minara; Meister Ardjan; Meister Arsjaad; Meisterita Miranda; Meister Kuntcoro
- Stanferd, Econometrist = Andy Williams (Andhika)
Posted by
Akira Wisnu
at
9:36 AM
0
comments
Friday, September 30, 2011
Kosan si Oom
Kosan si Oom
Ada senja di saat berkibar sang saka,
Begitu pula kau..
Begitu pula aku..
Sebagaimana kita..
Kisah jumpa sepenggah kala,
Dan ku akan merindukan kau,
Malam gelap di Surabaya,
Mari berdoa untuk dia..
Tempat dimana radio tak berubah arah dan haluan
Lokasi mahasiswa riang dan galau, menyatu menderu jadi satu..
Kami akan merindukanmu,
Namun kenangan menjadi hal terindah,
Karna adanya kamu...salah satu tempah wadah intelektual muda mu
Akirawisnu
Mantan Mahasiswa yang kau temani wahai Kosan si Oom
Posted by
Akira Wisnu
at
5:19 AM
0
comments
Thursday, June 30, 2011
Lihat
Lihat aku,
Disini aku menatap kalian
Menerawangi setiap wajah kalian
Menatap kebahagian biru di hati kalian
Lihat aku,
Telanjang diatas daun yang kesepian
Menguning karena malu
Malu karena ketidakmampuanku
Lihat aku,
Saat ini ku kehilangan
Terang itu ditimpa kegelapan
Menciptakan sebuah tanda
Lihat aku,
Kumasih berjalan terseok kawan
Tak ada uluran tangan
Kumenangis meratap atas bahagiamu
Lihat aku,
Tersandar lemas di tembok bernama putus asa
Sementara dorongan dari belakangku menghimpit nafasku
Akalku sekarat kawan
Lihat aku,
Anjing menggonggong
Orang melolong
Tapi hanya aku yang dirangsang sepi
Lihat aku,
Mulai meluhat esensi dunia sebagai hitam
Menatap gelap sebagai terang
Terinjeksi konsepsi bernama individualisme
Lihat aku,
Terhinggapi isme - isme anti fanatik
Terjebak dalam hedonisme yang bernama benci
Meradang atas rasa sepi
Lihat aku,
Iya, lihatlah aku..
Lihat..
Kuhanyalah sebuah bayangan transparan
Kulihat kamu,
Kutahu kamu bahagia
dan Kamu pantas akan itu
Tapi aku merasa, merasakan panas buih nanar
Kulihat kita,
Foto - foto disaat kita bersama kala muda
Kini kau dipuncak menara
Hierarki statuta strata tertinggi
Kulihat aku,
Terperih oleh bara
Menanarkan api bernama cemburu
Pasti kudapatkan kastaku
Lihat aku,
sebagai bukan aku
Menjadi entitas baru
Yang lebih kuat, dan lebih gelap..
Lihat aku,
Kubukan menyerah
Seminggu kan kusulap
Dan menyalip riang
Lihat aku,
memanjatkan Geiass terlarang
Menjadi entitas raja diraja
Dengan bayaran kesendirian
Lihat,
Lihat..
Lihat lirih
Kuterpejam
Termakan perih..
"Andai ada uluran tanganmu, maka kukan percaya kau masih ada kawan, namun hariku palsu dengan mu, hanyalah entitas terbelenggu senang, dan terkapar sedih saat bersama.."
-akirawisnu-
entitas yang terlupakan zaman
Posted by
Akira Wisnu
at
11:38 PM
1 comments
Labels: lihat
Geiass
Lari,
Aril,
Rila,
Ilar,
Lariku menjauhimu
Bagai Sangarila dikejutkan olehmu
Rilaksasi atas tingkahmu
Kilar bening atas usahaku
Kulari lebih jauh, hanya tuk melangkah lebih dekat
Namun beranjak makin jauh separil
Tak kuasa menahan daya Rila
Kuarsa rilar diantara benderang fenomena
Ya, fenomena melarikan diri
Bentukan rasa sakit hati kawanku Aril
Seperti tak rilakan hati saat tahu kau terbang tinggi
Sementara aku disini, hanya hilar dibentaran kali bernama sepi
Banyak orang besar menciptakan visi dari rasa sedih, benci, dendam, maupun IRI. Melampiaskan dalam bentuk haus akan kuasa, entitas semesta yang meraja - dirajakan dirinya. Takluk dalam pelukan setan yang didustakan masyarakat modern, yang tanpa sadar menguasai hati mereka pelan - perlahan. Kondisi patembayan, individualisme dari sikap merdeka, apatisme dan rasa sepi memakan hati mereka. Membakar api dalam hati, lewat rasa dengki. Menciptakan envisi karna benci, dan jadilah isme - isme yang terdustakan, termakan buaian setan.
Hitler, Tokugama Ieasu, Marx, Malcomm, bukan sekedar manusia tanpa hati. Justru hatilah yang menciptakan dengki, mereka berlari dari sangarila atas ilar irama dalam kerilaan hati mereka. Rasa yang terkondisikan menciptakan insepsi atas persepsi, membakar irama yang bernama benci dan menghidupkan ruh sakit hati.
Durjana,
Mendustakan isi sorgawi
Menciptakan esensi neraka dunia
Ingin lepas, ingin lari
Ego,
Menuntun manusia pada tingkatan lebih tinggi
Membuat perbedaan antara dia dan aku
Kamu dan kami, kasta antara manusia
Shiksa,
Membentuk envisi tuk menguasai
Depravasi relatif atas status sosial yang lebih tinggi
Indeks gini hati yang menorehkan dendam
Paradoksikal,
Ya, hidup dalam fluktuasi
Tak tentu menekan mati
Sekarang iya, besok musuh sampai mati
Ekhramwi,
Istilah untuk hati yang dibenci
Termakan neraka sepi
Tertekan dengan kondisi, ingin lariku, tapi makin dekatku, dengan waktu
Rasisme,
Terpaham karna benci
Terdustakan sebagai insepsi
Tertoreh sebagai envisi atas klan yang dibenci
Agoni,
Alterasi lebih tinggi
Ego dari segala ego isme - isme
Non-toleransi harga mati
Durjudhana,
Mitos Hindi akan kekuatan
Pendewaan diri
Perkuatan depravasi, hierarki Mashlow yang tak berkorelasi
Okultisme,
Penyembahan pada setan yang terkutuk
Memakan hati yang terbutakan oleh durga
Hilir mudik mencari pembenaran
Berhati-hatilah kawan, tak hanya aku. Kau pun mangsa dari entitas yang bernama benci, dan jalan terdekat tuk masuk adalah berlari sejauh mungkin dari kenyataan. Kenyataan saat kau tahu para sahabatmu pergi jauh meninggalkanmu, dan kamu terjungkal dalam jurang bernama sepi. Terbakar api bernama benci, memperkuatmu dengan rasa sedih, dan menanggalkan segala norma dan nilai sosial dalam hatimu, menjadikan dirimu entitas yang bernama sendiri. Ego dan agoni mendorong keinginanmu untuk menang, depravasi antara dia dan aku menjadikan kamu berfikir lebih jauh, lebih keras. Envisi paradoksikal membunuh hati kecilmu, yang berteriak keras untukmu, memohon tuk kau urungkan. Geiass, kutukan para raja - diraja. Kekuatan tuk menundukkan segala, dengan bayaran nyawa dan kesepian seumur hidup.
Bertahun sudah tertutup niat tuk mengingat, namun karma menderu ingin maju. Berikan aku Geiass itu Tuhan. Selama ku masih percaya ada harapan, sekalipun itu harapan dari keinginan yang bernama benci.
Sendiri kudengar mereka tertawa,
Riang menusuk kesendirian
Membakar emosi yang meluap keras
Akan kukejar kau, dan kulenggangkan kaki dengan kesombongan
Arogansi,
Entitas yang bernama iri
Dengki,
Menjebak setan keluar dari sorgawi
Entitas yang terenvisi sepi
Menumbuhkan semangat untuk membunuh hati
Kujebak langkahku sendiri
Saat kumeminta hati tuk dicaci
Setiap manusia pernah merasakan ini, rasa tuk membenci. Namun entitas ini adalah sahabat terdekat manusia, sekaligus yang paling dijauhi. Ciptakan Geiassmu masing sendiri. Dan jadilah raja diraja, para raja dengan kekuatan yang tercatat dalam sejarah manusia. Namun bayaran itu adalah kesendirian, laksana dewa, yang melihat keramaian manusia dalam kesendirian hati. Manusia - manusia ingkar yang menghianati dia.
Tapi tak ada jalan kembali, dan kuurungkan niatku tuk menjual hati. Karna kusisakan satu tetes kepercayaan kecil, yang kuharap mencuci rasa sepi, dan benci! Ku lari, mendekati Sangarila hati, Memoles hati Rila dan menorehkan ilar bilar diatas patung durga, para penyembah berhala.
-akirawisnu-
dalam sepi di awal juli..
Posted by
Akira Wisnu
at
11:18 PM
0
comments
Labels: Geiass
Persepsi dan Insepsi
Persepsi dan Insepsi
Awal juli, pertengahan dari hari - hari berat yang kini kurasa. Beban, ya, beban yang dipikul rasanya berbeda dengan beban yang selama ini menerjang. Sahabat, ya..para sahabat seperjuangan sudah melewati batasan yang bernama diri sendiri, sedangkan disini jangankan tuk maju berperang. Sekedar untuk bisa melewati gerbang batasan yang bernama persepsi diri saja aku masih tak sanggup. Rasa takut dan kalut itu menyelimuti hati, seakan - akan jatuh dari sbuah tebing tinggi yang selama ini yakin bisa didaki.
Persepsi, sebuah pemikiran kecil, ide orisinal yang mendasar dari setiap manusia. Hari ini kubangun jam tiga pagi, Salat pagi, mandi pagi, bahkan sarapan pagi. Sebuah kebiasaan yang kutinggalkan hampir 3 tahun lamanya, termakan agoni sebuah kota besar, metropol. Persepsi tentang masalah ini nampaknya membuat insepsi dari diriku meluap untuk berubah, berubah dalam persepsi baru yang bernama iri dan kesepian. Takut untuk maju, namun kehilangan segala yang selama ini dielukan.
Gibran, Khairil, dan banyak sastrawan lain pernah menyatakan prosa tentang semangat hidup. Sebagian dari mereka menayatakan hidup adalah penderitaan, perjuangan seseorang tuk diakui, saling melahap dengan kearifan ilmu. Dan nampak, aku berada dalam kasta terbawah kini, terbawa insepsi, yang mengubah persepsi sebesar hati.
Aku, kamu, dia, ku tak kenal lagi apa yang ada di depan, terbawa gamang yang sudah lama kutanggalkan. Kutinggalkan jauh tuk berpikir lebih positif. Namun inversi dari superversi yang justru menghinggap. Subversi dari sebuah insepsi yang menjadikan persepsi negatif makin menegasikan segala positifisme.
Hedonisme menjadi dewa, namun bukan solusi, hanya mengganjal jalan yang seharusnya. Kesenangan sesaat tuk sejenak melupakan beban. Hanya mengakumulasi beban, menambah perih dan pedih atas diri. Insepsi dan persepsi yang jauh lebih buruk dibandingkan saat gagal dalam banyak hal lain.
Kesedihan, ya..mungkin itu adalah masa gelap dimana iluminatus terbunuh oleh dogma - dogma gereja yang disesatkan. Atau keyakinan buta akan jihadin yang disalah artikan.
Maka aku ada
Maka aku adalah nyata
Maka aku hanyalah menegasikan nasib durjana
Maka aku adalah sebuah derita
Maka dialah durga
Maka dialah shiksa
Maka derita ini menjadi bejana
Bejanan atas kisah luka
Hati ini fakta
Rasa ini cinta
Cinta sebelah hati
Pada sebuah kisah bernama Skripsi
Enkripsi rasa takut
Persepsi akan insepsi
Aku adalah aku, berjuang sendiri kini..mengharap secercah keajaiban Allah tuk mendorong keberuntunganku. Sekalipun kesepian sebagai harganya, kewajiban yang harus kutuntaskan harus dilanjutkan. Kode Geiass, kutukan sang raja, kumohon mata gelap itu, sekalipun kesepian menjadi bayarannya. Karena aku terpaksa, ataupun aku terhinakan, dan aku tertekan dengan keadaan. Maka aku ada, dan aku berjuang..
-akirawisnu-
yang dihianati waktu..
Posted by
Akira Wisnu
at
9:50 PM
0
comments
Labels: persepsi dan insepsi
Wednesday, May 26, 2010
Ramalan Jayabaya
wanita nglamar pria
isih bayi padha mbayi
sing pria padha ngasorake drajate dhewe
wanita melamar pria
masih muda sudah beranak
kaum pria merendahkan derajatnya sendiri
wong golek pangan pindha gabah den interi
sing kebat kliwat, sing kasep kepleset
sing gedhe rame, gawe sing cilik keceklik
sing anggak ketenggak, sing wedi padha mati
nanging sing ngawur padha makmur
sing ngati-ati padha sambat kepati-pati
tingkah laku orang mencari makan seperti gabah ditampi
yang cepat mendapatkan, yang lambat terpeleset
yang besar beramai-ramai membuat yang kecil terjepit
yang angkuh menengadah, yang takut malah mati
namun yang ngawur malah makmur
yang berhati-hati mengeluh setengah mati
selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun
sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu
bakal ana dewa ngejawantah
apengawak manungsa
apasurya padha bethara Kresna
awatak Baladewa
agegaman trisula wedha
jinejer wolak-waliking zaman
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar
utang nyawa bayar nyawa
utang wirang nyaur wirang
selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
(sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)
akan ada dewa tampil
berbadan manusia
berparas seperti Batara Kresna
berwatak seperti Baladewa
bersenjata trisula wedha
tanda datangnya perubahan zaman
orang pinjam mengembalikan,
orang berhutang membayar
hutang nyawa bayar nyawa
hutang malu dibayar mal
dunungane ana sikil redi Lawu sisih wetan
wetane bengawan banyu
andhedukuh pindha Raden Gatotkaca
arupa pagupon dara tundha tiga
kaya manungsa angleledha
asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur
sebelah timurnya bengawan
berumah seperti Raden Gatotkaca
berupa rumah merpati susun tiga
seperti manusia yang menggoda
akeh wong dicakot lemut mati
akeh wong dicakot semut sirna
akeh swara aneh tanpa rupa
bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis
tan kasat mata, tan arupa
sing madhegani putrane Bethara Indra
agegaman trisula wedha
momongane padha dadi nayaka perang
perange tanpa bala
sakti mandraguna tanpa aji-aji
banyak orang digigit nyamuk,
mati banyak orang digigit semut, mati
banyak suara aneh tanpa rupa
pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar
tak kelihatan, tak berbentuk
yang memimpin adalah putra Batara Indra,
bersenjatakan trisula wedha
para asuhannya menjadi perwira perang
jika berperang tanpa pasukan
sakti mandraguna tanpa azimat
apeparap pangeraning prang
tan pokro anggoning nyandhang
ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang
sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling seh seh kalih pinaringan sabda hiya gidrang-gidrang
bergelar pangeran perang
kelihatan berpakaian kurang pantas
namun dapat mengatasi keruwetan orang banyak
yang menyembah arca terlentang
cina ingat suhu-suhunya dan memperoleh perintah, lalu melompat ketakutan
.
putra kinasih swargi kang jumeneng ing gunung Lawu
hiya yayi bethara mukti, hiya krisna, hiya herumukti
mumpuni sakabehing laku
nugel tanah Jawa kaping pindho
ngerahake jin setan
kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo
kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda
landhepe triniji suci
bener, jejeg, jujur
kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu
yaitu Kyai Batara Mukti, ya Krisna, ya Herumukti
menguasai seluruh ajaran (ngelmu)
memotong tanah Jawa kedua kali
mengerahkan jin dan setan
seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu
membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda
tajamnya tritunggal nan suci
benar, lurus, jujur
didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong
pendhak Sura nguntapa kumara
kang wus katon nembus dosane
kadhepake ngarsaning sang kuasa
isih timur kaceluk wong tuwa
paringane Gatotkaca sayuta
tiap bulan Sura sambutlah kumara
yang sudah tampak menebus dosa
dihadapan sang Maha Kuasa
masih muda sudah dipanggil orang tua
warisannya Gatotkaca sejuta
idune idu geni
sabdane malati
sing mbregendhul mesti mati
ora tuwo, enom padha dene bayi
wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada
garis sabda ora gentalan dina,
beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira
tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa
nanging inung pilih-pilih sapa
ludahnya ludah api
sabdanya sakti (terbukti)
yang membantah pasti mati
orang tua, muda maupun bayi
orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi
garis sabdanya tidak akan lama
beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya
tidak mau dihormati orang se tanah Jawa
tetapi hanya memilih beberapa saja
waskita pindha dewa
bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira
pindha lahir bareng sadina
ora bisa diapusi marga bisa maca ati
wasis, wegig, waskita,
ngerti sakdurunge winarah
bisa pirsa mbah-mbahira
angawuningani jantraning zaman Jawa
ngerti garise siji-sijining umat
Tan kewran sasuruping zaman
pandai meramal seperti dewa
dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda
seolah-olah lahir di waktu yang sama
tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati
bijak, cermat dan sakti
mengerti sebelum sesuatu terjadi
mengetahui leluhur anda
memahami putaran roda zaman Jawa
mengerti garis hidup setiap umat
tidak khawatir tertelan zaman
mula den upadinen sinatriya iku
wus tan abapa, tan bibi, lola
awus aputus weda Jawa
mung angandelake trisula
landheping trisula pucuk
gegawe pati utawa utang nyawa
sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan
sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
oleh sebab itu carilah satria itu
yatim piatu, tak bersanak saudara
sudah lulus weda Jawa
hanya berpedoman trisula
ujung trisulanya sangat tajam
membawa maut atau utang nyawa
yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain
yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan
sirik den wenehi
ati malati bisa kesiku
senenge anggodha anjejaluk cara nistha
ngertiyo yen iku coba
aja kaino
ana beja-bejane sing den pundhuti
ateges jantrane kaemong sira sebrayat
pantang bila diberi
hati mati dapat terkena kutukan
senang menggoda dan minta secara nista
ketahuilah bahwa itu hanya ujian
jangan dihina
ada keuntungan bagi yang dimintai
artinya dilindungi anda sekeluarga
ing ngarsa Begawan
dudu pandhita sinebut pandhita
dudu dewa sinebut dewa
kaya dene manungsa
dudu seje daya kajawaake kanti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandhang
di hadapan Begawan
bukan pendeta disebut pendeta
bukan dewa disebut dewa
namun manusia biasa
bukan kekuatan lain diterangkan jelas
bayang-bayang menjadi terang benderang
aja gumun, aja ngungun
hiya iku putrane Bethara Indra
kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan
tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh
hiya siji iki kang bisa paring pituduh
marang jarwane jangka kalaningsun
tan kena den apusi
marga bisa manjing jroning ati
ana manungso kaiden ketemu
uga ana jalma sing durung mangsane
aja sirik aja gela
iku dudu wektunira
nganggo simbol ratu tanpa makutha
mula sing menangi enggala den leluri
aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu
beja-bejane anak putu
jangan heran, jangan bingung
itulah putranya Batara Indra
yang sulung dan masih kuasa mengusir setan
turunnya air brajamusti pecah memercik
hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk
tentang arti dan makna ramalan saya
tidak bisa ditipu
karena dapat masuk ke dalam hati
ada manusia yang bisa bertemu
tapi ada manusia yang belum saatnya
jangan iri dan kecewa
itu bukan waktu anda
memakai lambang ratu tanpa mahkota
sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati,
jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh
keberuntungan ada di anak cucu
.
iki dalan kanggo sing eling lan waspada
ing zaman kalabendu Jawa
aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa
cures ludhes saka braja jelma kumara
aja-aja kleru pandhita samusana
larinen pandhita asenjata trisula wedha
iku hiya pinaringaning dewa
inilah jalan bagi yang ingat dan waspada
pada zaman kalabendu Jawa
jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa
yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga
jangan keliru mencari dewa
carilah dewa bersenjata trisula wedha
itulah pemberian dewa
.
nglurug tanpa bala
yen menang tan ngasorake liyan
para kawula padha suka-suka
marga adiling pangeran wus teka
ratune nyembah kawula
angagem trisula wedha
para pandhita hiya padha muja
hiya iku momongane kaki Sabdopalon
sing wis adu wirang nanging kondhang
genaha kacetha kanthi njingglang
nora ana wong ngresula kurang
hiya iku tandane kalabendu wis minger
centi wektu jejering kalamukti
andayani indering jagad raya
padha asung bhekti
menyerang tanpa pasukan
bila menang tak menghina yang lain
rakyat bersuka ria
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba
raja menyembah rakyat
bersenjatakan trisula wedha
para pendeta juga pada memuja
itulah asuhannya Sabdopalon
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur
segalanya tampak terang benderang
tak ada yang mengeluh kekurangan
itulah tanda zaman kalabendu telah usai
berganti zaman penuh kemuliaan
memperkokoh tatanan jagad raya
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi
Posted by
Akira Wisnu
at
6:02 AM
0
comments
Labels: akhir dunia, ramalan, ramalan indonesia, ramalan jayabaya
Tuesday, May 25, 2010
Peter, Paul & Mary - Lemon Tree-
"Lemon Tree"
When I was just a lad of ten, my father said to me,
"Come here and take a lesson from the lovely lemon tree."
"Don't put your faith in love, my boy", my father said to me,
"I fear you'll find that love is like the lovely lemon tree."
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
One day beneath the lemon tree, my love and I did lie
A girl so sweet that when she smiled the stars rose in the sky.
We passed that summer lost in love beneath the lemon tree
The music of her laughter hid my father's words from me:
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
One day she left without a word. She took away the sun.
And in the dark she left behind, I knew what she had done.
She'd left me for another, it's a common tale but true.
A sadder man but wiser now I sing these words to you:
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
Lemon tree very pretty and the lemon flower is sweet
But the fruit of the poor lemon is impossible to eat.
Posted by
Akira Wisnu
at
9:47 PM
0
comments
Labels: lagu wisnu, lemon tree, lirik, mary, paul, paul peter and mary, peter, song lemon tree
Monday, March 1, 2010
Lensa dan Nada bagian ketiga
20 tahun asam dilewati negeri besar, besar secara luasnya, namun kecil manusianya. Di negara itulah sang pemimpin, Baginda raja Soekarno hilir mudik mengatasi berbagai masalah di dalam negeri, mulai dari gembar – gembor berita kudeta, skandal kehidupan sang raja di raja, sang mangku negoro, maupun berbagai desas – desus ideologi negara maritim dan sikap nasionalitas. Berbagai hiruk pikuk ini tersimpan di lensa kameraku buatan Jepang baru, berjuta mentalitas anak negeri tersorot, beribu kesenangan tercetak dari benda ajaib ini, namun juga tergambar milyaran rasa sedih dan duka rakyat yang tengah di panaskan oleh sikap politisi masa kini.
Dari Salemba tiga, bergerak kini ke daerah Pondok Bambu. Dari idealisme pemuda menuju sikap anestesi pemerintah. Dan jurnalistik, terpaksa di cap sebagai komunis, hanya karena tulisan dan opini pemuda, dan kini hampir semua pikiran muda dipadamkan pelan – pelan.
Kamera cokelat tua itu remuk dihantam mobil patroli TRI (tentara republik Indonesia), dilindas tanpa meninggalkan jejak satu biji. 10 nama pemuda – pemudi di masukkan dalam ruang gelap, yang konon sudah menenggelamkan banyak pemuda Batavia hingga tinggal nama. Dan kini semua mimpi ini mulai sirna, dunia sudah berbeda bagiku, namun itu semua bukan sebuah perkara. Yang menjadi pikiran bagiku hanya satu hal yang masih membuatku kuat tuk bernafas sampai detik ini, yang masih membuatku berlari bebas dari jerat fitnah ini.
Satu hal itu adalah dia, seorang gadis yang belum pernah tahu tentang apa yang kurasa..
Dan semua hanya menunggu waktu…. Di jeruji besi tahun 65. []
http://akirawisnu.blogspot.com archives from darkside of me and akira wisnu
Posted by
Akira Wisnu
at
2:38 AM
0
comments
Labels: bui, jeratan kisah klasik, korban politik, lensa dan nada, masa kelam jurnalistik, nada 1, orde baru, penghilangan mahasiswa, PKI, rumah tahanan mahasiswa
Lensa dan Nada bagian kedua
Nama aslinya Thita Haningtyas, nama kerennya Thita, akrab di panggil di dunia jurnalis gosip sebagai “Thijah The Mighty Maid” (entah kenapa mighty maid, aku juga masih bingung, mungkin karena dia adalah pembantu dunia infotainment yang konon “Ruar” biasa hebat), dan oleh orang – orang terdekatnya dipanggil Momo. Dipanggil Momo pun ada sejarahnya, menurut yang empunya cerita sih, ini penggilan dari neneknya Thijah yang susah memanggil nama cucunya Thita, atau Itha. Karena gigi sang nenek sudah makin komplikasi, mudahnya dia memanggil sang cucu dengan “Momo”.
Hampir 2 jam ditunggu sang empunya cerita, namun tak kunjung kelihatan batang hidung perempuan usia setengah baya itu. Mungkin karena sibuk, atau mungkin karena disibukkan dengan urusan lainnya. Sungguh tak jelas apa yang dilakukan olehnya, yang pasti dia punya beragam agenda yang susah dijelaskan oleh logika bebas mahasiswa abad ini.
Bila kalian bertanya kapan kali pertama bertemu dengan Thijah, tentu akan kujawab. Berawal dari sekitar 7 bulan lalu. Saat itu bulan Agustus yang terik di kota hujan, Bogor.
Aku dan beberapa rekan BOE (Badan Otonom Ekonomika) serta Kanopi (Kajian Ekonomi Pembangunan Indonesia) FEUI tengah melakukan penelitian kecil dan observasi lingkungan di daerah Darmaga. Sebenarnya observasi ini hanyalah kedok belaka, sekedar topeng pancingan untuk menguak informasi yang jauh di belakangnya. Ada indikasi kasus penyalahgunaan wewenang CSR[1] dari PEMDA setempat, lewat observasi lingkungan kita berharap bisa mengorek sedikit informasi tentang dugaan kasus ini, semangat muda yang penuh idealisme, menguak kebenaran tentu adalah sebuah prestis tersendiri bagi kami.
Namun hampir 4 minggu berlalu, dilewati dengan terik dan gerimis. Rasa kantuk karena kurang tidur ditemani oleh penasaran tak berkesudahan. Letih sudah 4 mahasiswa di kota orang, namun kosong hanya di dapatkan. “Tak ada informasi satupun..” keluhku pelan dengan nada setengah harapan.
Sudah dekat batasan waktunya dengan waktu masuk kuliah kembali, seolah makin sempit menyeruak, makin kalut dan kecewa karena apa yang hendak kita kuak tak kunjung terpancing jua. Setengah jam lagi kawan, setengah jam lagi! Kita pasti berkemas kembali ke Depok, sudah tak tahan dengan dingin dan tak kuasa menahan rasa kecewa. Seolah gelora muda ini padam dan runtuh dalam semalam.
“Musnah di terkam air Bah!!” kutuk ku pelan.
“Darah muda, darahnya para remaja..ahahhahahak!! kenapa pikiranmu kusut, bocah?!”
Dahiku mengkerut, menyempitkan mata, menajamkan pandangan pada arah suara cempreng berjarak tak lebih dari 5 meter di sebelah kananku. Tetapi masih tak jelas.
“Hmmm...”, dia mendekat ke arah kami berempat, memutar singkat sambil mengamati kami. Seolah dia tahu apa maksud dan dari mana kami berasal, dia memperkenalkan dirinya.
“Thijah! Dalam dunia jurnalis mahasiswa dulu aku biasa dipanggil itu, kisanak!”
Aku terdiam, kedua sahabatku dari BOE, Jaseph dan Johen tampak sumringah. Layaknya anak domba yang bertemu dengan sang gembala kembali, atau seorang budak yang dibebaskan oleh majikannya..ah, mungkin terlalu berlebihan. Lebih seperti ikan bertemu dengan air, air muka dua “J” tampak berseri,
“Gelora muda mereka telah kembali!” sahut Sang empunya cerita, Thijah.
“Senior Thijah!!” sahut kedua “J” penuh semangat.
“Betul kisanak, seperti yang kuduga, dari badge kalian, aku tak salah lagi.. BOE generasi keberapa?”
“31 neng Ijah!!! Eh, betul kan Hen?!” jawab Jaseph, seraya menghitung kembali generasi keberapa mereka sambil dengan wajah ling – lung.
Dengan setengah terbahak, Johen memandang ke arah kita. Dia terbahak dengan lukisan wajah wakilnya Jaseph, sekaligus dia paham dengan kebingunganku dan Dara. Seolah bisa membaca pikiranku, dia melambai pelan ke arah kami berdua, lalu dia memperkenalkan siapa wanita paruh baya di depan kami. Sikapnya terlihat mencerminkan wanita di usianya, seperti sudah melalui asam dan garam.
“Dialah Thijah! Thijah, the Mighty Maid!! Legenda Reportase BOE!! Salah satu dari tiga pelopor..!”
Kami berdua terhenyak, nama itu tak asing di kampus kami. Melegenda bagai kisah si Malin dari tanah Padang, keramat dan tak bisa dipanggil sekenanya. Dan kini dia berdiri dengan tinggi tak sampai pundakku, megah membentangkan senyum khasnya dengan raut wajah penuh wibawa.
“Tak perlu sungkan, bocah! Aku sudah tahu apa niatan kalian, Cut sudah bercerita padaku, bercerita hampir semuanya. Jadi sebutkan sisanya padaku, dan akan kubantu kalian membabat mitos yang hendak kalian kuak, kisanak!” []
[1] Corporate Social Responsibility
http://akirawisnu.blogspot.com archives from darkside of me and akira wisnu
Posted by
Akira Wisnu
at
2:22 AM
0
comments
Labels: akira wisnu, boe, bohong, cerpen wisnu, darkside of me, feui depok, jeratan kisah klasik, jurnalis mahasiswa, kanopi, puisi wisnu, pujangga, thijah
Friday, February 26, 2010
Pengumuman!!
Mulai hari ini akan ada beberapa link untuk Blog Akira Wisnu, Darkside of Me!!
http://akirawisnu.blogspot.com/ (yang resmi blogger.com)
http://akirawisnu.net.tc/ (net domain alternatif)
atau
http://akira-wisnu.co.cc/
untuk dot com akan menyusul seiring kenaikan posting, komentar, links, dan pengunjung :D
makasiiiii
keep on posting gan!
-akirawisnu-
Darkside of me!
n.b:
jangan lupa kunjungi juga
http://myconomy.blogspot.com/ untuk bertanya seputar ekonomi disekitar
Posted by
Akira Wisnu
at
10:27 AM
1 comments
Labels: akira wisnu, blogging activities, pengumuman, website wisnu
Sore Penuh Hasrat, Malam Berlalu
kutemukan sajak ini disebuah tempat:
Menggelora di sunyinya senja
Mereguk rona jingga penghujung hari
Mendesahkan raut
Menyembuhkan dahaga
Mengcengkramakan keinginan
Sinar senja menggurat nafsu
Meraba lekuk menggoda
Riuh senandung pematang
Bergulat nikmati hamburan redup mentari
Ternaungi lembayung
Beriring kicau burung senja
Bibir bersentuhan bercerita merdu
Mengenai pendam hasrat di terik tadi
Jemari lentik merangkul
Menutup hasrat, membuka gelora
Sebuah melodi penghantar sore
Menopang lekuk tubuh basah itu
Ditemani wangi sabun semerbak
Membuat tatap ini tak terelak
Rona merah muda paras mu
Menampik sorot mataku
Jemari-jemari lentikmu
Genggam erat helai handuk itu
Lihai tanganmu bersolek
Menabur bedak menutup rona
Tersipu mengingat malam seronok
Menyampaikan gelora
Peraduan ini
Tak jauh dari mu
Namun mengapa galau
Tak kunjung hati kudapati
Butiran hujan bersahutan
Menambah sunyi paras mu
Gundah tak kunjung berkesudahan
Apakah harus ku utarakan kepadamu
Namun bibir ini terkunci
Waktu yang berlalu itu
Menahan ku untuk memulai
Mengapa rasa semakin tak menentu
Posted by
Akira Wisnu
at
3:37 AM
0
comments
Labels: kaskus, puisi wisnu, pujangga, semalam berlalu, sore penuh semangat, wildgrass
Nirvana Semu
(sebelumnya)
Bagian I:
Kafetaria yang penuh dengan gumaman tak tentu, mungkin itulah penjelasan paling singkat untuk menggambarkan tempat ini. Sebuah tempat berkumpul bagi para jurnalis yang lelah atas jemunya dunia yang mereka rangkum, atau jenuh atas penolakan bak neraka dari sumber penghasilannya. Aroma di udara dipenuhi dengan peluh bercampur asap rokok, yang bila kau hirup sedikit saja kawan mungkin kau sudah pingsan dan tak sadar dimana kalian berada.
Suasana riuh menjadi langganan tetap kafe di jalanan lengang Margonda siang terik. Tak ada satupun yang aneh, dalam arti memang seperti ini sejak pertama kuinjakkan sepatu bututku di tempat ini. Tempatnya tak terlalu luas, dengan meja – kursi alakadarnya, begitu pula senyum yang alakadarnya dari pelayan tokonya yang tak bisa dibilang manis, bahkan jauh dari kata manis.
Kafe yang bernama “Nirvana”, atau dalam bahasa sanskerta disebut sebagai “Nirwa’Na”, sebuah tempat yang di artikan secara etimologi sebagai sorgawi yang kekal. Namun beda nama, beda pula suasana. Kafe ini tak mencerminkan surga bagiku, lebih mirip kandang bagi para burung kenari pembawa pesan, yang berkicau berisik satu sama lain, berbekal pengetahuan dari wawancara ataupun investigasi pelan mengintai dan membuat bising telinga jika kita dengar lebih dari 3 jam. Bisa pingsan! Bisa koit jika tak terbiasa!
Namun aku disini bukan berarti betah berlama – lama disini. Aku disini karena sebuah tugas yang menjengkelkan, digaris bawahi, “SEKEDAR TUGAS YANG MENJENGKELKAN!” (yang kadang memang susah digambarkan sebagai suatu hal yang rumit...terlalu rumit untuk dibuat senang)
Sebagai seorang jurnalis amatir berbekal ilmu jurnalistik di kampus, mengendus bau berita sifatnya sangat absurd. Konon katanya tempat berkumpulnya para kenari informasi seperti ini sangat efektif digunakan sebagai media pencari berita.
Bagai anjing yang mencari jejak buruannya, metode pencarian berita di tempat berkumpul seperti ini sudah terjadi sejak zaman pertengahan, atau bahkan jauh sebelum itu, namun itu bukan urusanku. Yang menjadi penting bagiku kini adalah sebuah informasi kecil yang belum bisa kuceritakan kawan, yang menurut kabar burung (belum tentu benar) dapat kita dapatkan dari seorang bekas wartawan infotainment 90’an, sang pelopor yang sungguh di luar dugaan, di masa matangnya justru memutuskan untuk keluar dan menyimpangkan sayap menjadi pemilik Kafe Nirvana. Dialah “Thijah”, sebagai nama pena dari sang mantan wartawan senior di dunia gosip.
Posted by
Akira Wisnu
at
3:16 AM
0
comments
Labels: akira wisnu, bagian satu, cerita klasik, cerita wisnu, cerpen, jurnalis mahasiswa, lensa 1, lensa dan nada, thijah
Tuesday, February 23, 2010
Lensa dan Nada : Sebuah Prolog
Tak ada hal lain yang membuat benda ini menarik, segalanya begitu biasa di dalamnya, mulai dari komponen yang biasa, flash light seperti biasa, serta resolusi yang biasa saja, tak ada yang lebih- tak kurang. Namun taukah kawan, ada satu bagian yang spesial dari sebuah hal yang biasa dalam kamera handset kelas bawah ini, yang membuatku tak akan memberikan handset ini padamu walau kau tawar setinggi langit, ataupun sedalam laut baltik.
Yang membuat spesial bukan usia kameranya, bukan pula polarisasinya yang canggih, bahkan menurutku sangat biasa di banding handset modern jaman sekarang, tengok saja kamera ini, cuma tertera tulisan singkat 2 MegaPixel tanpa tambahan lensa Carl-Zeiss, atau tulisan autofocus. Namun dalam kesederhanaan itulah, bagiku dia sempurna, sudah sangat sempurna. Dia sempurna karena sudah memotret satu bagian terpenting dalam rongga hati ini, terekam jelas dalam noktah piksel – piksel rendah yang terpolarisasi satu sama lain, dan menjebak waktu dalam bentuk dua dimensi. Jebakan waktu yang telah menggambar dengan indah seseorang yang bernama Nada. []
Posted by
Akira Wisnu
at
8:22 PM
0
comments
Labels: agenda, akira wisnu, cerita klasik, cerita wisnu, cerpen, lensa dan nada, nada, sebuah prolog
Thursday, February 18, 2010
Sarjana Muda - Iwan Fals
Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Di sela bibir tampak mengering
Terselip s'batang rumput liar
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s'makin terlihat
Dengan langkah gontai tak terarah
Keringat bercampur debu jalanan
Reff I :
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
'Tuk jaminan masa depan
Langkah kakimu terhenti
Di depan halaman sebuah jawaban
Termenung lesu engkau melangkah
Dari pintu kantor yang di harapkan
Tergiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang di dambakan
Tak peduli berusaha lagi
Namun kata sama yang kau dapatkan
Jelas menatap awan berarak
Wajah murung s'makin terlihat
Reff II :
Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Tak berguna ijasahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Sia-sia semuanya
Setengah putus asa dia berucap
"maaf ibu..."
saya sendiri tahun depan insya Allah lulus, mendengar lagu ini tiba2 saya merasa gemetar :'(
apa bisa nanti saya akan bertahan di keras dunia luar, tanpa sanak saudara...
Posted by
Akira Wisnu
at
8:19 PM
0
comments
Labels: iwan fals, sarjana muda
LEZAZA: Kilabreb Naulah
Habmel iggnit id naratad kacnup atok najuh, id nariggnip gnunug Kalas anamid ukdasaj nad ukitah inik adareb. Malad nairidnesek id iaragn ipes nad gnibet iridnes, gnay paleg nad hamajid helo malam. Gnirabret nairidnesuk, ignaretid nalub malam hagnetes nadab, apnat gnatnib.
"Ha, apagnem hisam aguj.."
hulep nalep ikalel, ulal helonem ek nanak, ai kat asib apa - apa. Ai hupmul inik, hupul nadab nad itah.
Kat ada nuputas gnay tahilid, nakhab kulham sulah nad nuptimeded kat uam inamenem ai malad napalegek.
"Hhgraaaaaaaaa!!"
aynnakairet amuc idajnem hiub id natual, aid iridnes id gnuju gnaruj. Gnadarem gnajrenem ayntikas ainud gnay anaf.
Airp ini naklaggnitid aynhisakek, gnaroeses gnay ai gnayas apnat haubes atak pacuret.
Aynijnaj irakgniid, nad amrak aynitapmenem. Ratnebes igal ai naka itam, nad ai nikay naka lah uti.
Malad itah ai iakgnarem asorp aynlicek, kut gnay aid icneb nad aid atnic.
aynhajaw idajnem utnah id ukainud
ujninem majek pait ulek nad ulep id malad ukitah
aynnamuynes itrareb utas lah..
USLAP
aid nad alages aynoge
nad arap naregnap atokham gnay aynignililegnem
nakiabek uslap
nad alages ajup ijup atawed-atihawed gnay umes
inoga arap asaugnep
sarap kab artapoelc
asarem upmam nakulkanem pait airp,
numan katnos ipa alaynem
nad icnebuk aid
atinaw sarapreb atamrep ipat narikipreb asib..
aid halada nauslapek hadniret..
ikalel ini hatap aynitah, utigeb alup ayntagnames..anerak aynatnic nakkat hanrep iapmas. Gnay ai atnic halada gnaroeses gnay kat hanrep ada, halaid Lezaza aynainud.
-gnubmasreb-
Posted by
Akira Wisnu
at
8:02 PM
0
comments
Wednesday, February 10, 2010
hening
terdiam membisu kaku
mengheningkan semua kenangan
deru mesin menjadi melodi
dan aku menyanyi sunyi
apa arti semua ini ?
apa maknaku untukmu ?
apakah aku boneka dengan jiwa
yang kau gerak sesukamu ?
rinai-rinai menghantam bumi di pagi buta
aku serasa tak bernyawa
ku langkahkan paduan telapak kaki
diantara wewangi aspal basah
aku serasa mati ...
Posted by
Akira Wisnu
at
3:23 AM
0
comments
Labels: kosong
Wednesday, January 13, 2010
Sekilas Paradox
aku berbohong dan itu mudah..
karena itu manis..
karena orang menyukai kebohonganku..
aku jujur dan itu sulit..
karena itu pahit..
karena orang benci kenyataan..
dustaku adalah candu bagi mereka..
mereka hidup di atas kebohongan..
kemunafikan yang indah..
realita merupakan racun keras..
mematikan harapan dan mimpi..
dan aku tahu mereka akan mati sengsara..
ketika kebohongan menjadi candu dan kenyataan menjadi mimpi buruk..
biarkanlah manusia menikmati kembang candu itu..
karena itu yang membuat mereka bertahan dari realitas kehancuran..
Posted by
Akira Wisnu
at
8:31 AM
0
comments
Labels: azazel, bohong, cinta, jeratan kisah klasik, patah hati, realita, sekilas paradox
Tuesday, January 12, 2010
Sebuah Kisah Klasik: Azazel
Lembah tinggi di dataran puncak kota hujan, di pinggiran gunung Salak dimana jasadku dan hatiku kini berada. Dalam kesendirian di ngarai sepi dan tebing sendiri, yang gelap dan dijamah oleh malam. Terbaring kusendirian, diterangi bulan malam setengah badan, tanpa bintang.
"Ah, mengapa masih juga.."
peluh pelan lelaki, lalu menoleh ke kanan, ia tak bisa apa - apa. Ia lumpuh kini, lupuh badan dan hati.
Tak ada satupun yang dilihat, bahkan mahluk halus dan dedemitpun tak mau menemani ia dalam kegelapan.
"Aaaaaaaaarghh!!"
teriakannya cuma menjadi buih di lautan, dia sendiri di ujung jurang. Meradang menerjang sakitnya dunia yang fana.
Pria ini ditinggalkan kekasihnya, seseorang yang ia sayang tanpa sebuah kata terucap.
Janjinya diingkari, dan karma menempatinya. Sebentar lagi ia akan mati, dan ia yakin akan hal itu.
Dalam hati ia merangkai prosa kecilnya, tuk yang dia benci dan dia cinta.
meninju kejam tiap kelu dan pelu di dalam hatiku
senyumannya berarti satu hal..
PALSU
dia dan segala egonya
dan para pangeran mahkota yang mengelilinginya
kebaikan palsu
dan segala puja puji dewata-dewahita yang semu
agoni para penguasa
paras bak cleopatra
merasa mampu menaklukan tiap pria,
namun sontak api menyala
dan kubenci dia
wanita berparas permata tapi berpikiran bisa..
dia adalah kepalsuan terindah..
lelaki ini patah hatinya, begitu pula semangatnya..karena cintanya takkan pernah sampai. Yang ia cinta adalah seseorang yang tak pernah ada, dialah Azazel dunianya.
-bersambung-
Posted by
Akira Wisnu
at
8:27 AM
0
comments
Labels: azazel, cerita klasik
Welcome To My Dark Blog World!!
dan disini atas nama cinta cita memudar..
Disini dalam gelisah,
atas urung jua atas sahabat hamba..
Disini dalam peraduan,
kala yang dicinta memaksakan badai..
Disini adalah tulisan sepatah dari orang - orang dirundung masalah hidup, ceritakanlah, dan dunia ada bagimu!!
Pembaca blogQ..
Blogger Indonesia
Status Akira Wisnu is:
Bacaan Akira
-
-
Jumpa Lagi~12 years ago
-
The Pain!13 years ago
-
-
-
-
Barbarisme Modern13 years ago
-
-
-
-
amelthecurl14 years ago
-
-
-
Bandung, November 7th, 200916 years ago
My Fella Friends!!
My Website of This Year!!
Category
- 1948 (1)
- 7th economix (1)
- agenda (1)
- agus sarjono (1)
- akhir dunia (1)
- akira wisnu (18)
- aksika (1)
- aku tak rtahu mengapa (1)
- aldi KR (1)
- azazel (4)
- bagian satu (1)
- big 5 (1)
- blogging activities (1)
- boe (1)
- bohong (2)
- bui (1)
- cerita klasik (3)
- cerita wisnu (13)
- cerpen (2)
- cerpen wisnu (1)
- chairil anwar (1)
- cinta (1)
- cintaku tertinggal di malaysia (1)
- cintaku tertinggal di sajakmu (2)
- d'remenkz (1)
- dan kuingin berlari saja (1)
- darkside of me (4)
- demot (1)
- detikcom (1)
- dewa (1)
- dewa 19 (1)
- drulsky (1)
- duka (1)
- economix (1)
- economix feui (1)
- engkau para yang terlupakan (1)
- feui (2)
- feui depok (1)
- film oke gan (1)
- ga-rei-zero (1)
- Geiass (1)
- gelapku... (1)
- gibran (1)
- goodbye (1)
- hacking (1)
- hanyalah sebongkah distorsi (1)
- hari yang bikin BT (1)
- iwan fals (2)
- jeratan kisah klasik (12)
- jurnalis mahasiswa (2)
- juwita (1)
- kanopi (1)
- karawang bekasi (1)
- kaskus (2)
- kegiatan tralalalalala (1)
- kekasih hatiku asih (1)
- kenangan bersama kawan (1)
- korban politik (1)
- kosong (1)
- ku bukanlah pemimpi (1)
- kuliah gila (1)
- lagu wisnu (3)
- lebaran (1)
- lemon tree (1)
- lensa 1 (1)
- lensa dan nada (3)
- lihat (1)
- lirik (1)
- mahasiswa (1)
- mary (1)
- masa kelam jurnalistik (1)
- medea (2)
- Memori masa indah di SMA (2)
- merantau (1)
- My Idol of Art (1)
- nada (1)
- nada 1 (1)
- opini ekonomi (1)
- orde baru (1)
- patah hati (1)
- paul (1)
- paul peter and mary (1)
- penghilangan mahasiswa (1)
- pengumuman (2)
- percayalah kasih (1)
- perjuangan (1)
- persepsi dan insepsi (1)
- peter (1)
- phase (1)
- PKI (1)
- puisi wisnu (30)
- pujangga (3)
- rama bertahan (1)
- ramalan (1)
- ramalan indonesia (1)
- ramalan jayabaya (1)
- realita (1)
- rumah tahanan mahasiswa (1)
- sahabat para wanita (2)
- sajak palsu (1)
- sarjana muda (1)
- sebuah prolog (1)
- sebuah tanya (2)
- sekilas paradox (1)
- semalam berlalu (1)
- song lemon tree (1)
- sore penuh semangat (1)
- tentang kampus (1)
- the next chapter (1)
- thijah (2)
- Vi-Maker patah hatii.. (3)
- vina panduwinata (1)
- website wisnu (1)
- wildgrass (1)
- ws rendra (2)
